Sejarah Yayasan Xaverius Palembang
Yayasan
Xaverius Palembang adalah sebuah yayasan
milik Keuskupan Agung Palembang yang menyelenggarakan
pendidikan berupa sekolah
formal bercirikan Katolik
(Pelindung: Santo Fransiskus Xaverius) mulai dari jenjang TK hingga SMA di tiga provinsi di Sumatera,
yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi,
dan Provinsi Bengkulu.
Didirikan
pada 5 Mei 1930 oleh Pastor H. J. D. van
Oort, SCJ. Akta Notaris nomor 11/1930 oleh Notaris Christian
Maathius.
Keorganisasian
Yayasan Xaverius Palembang
Pada 18 Oktober
2002 terjadi peralihan
estafet kepemimpinan dan serah terima kepengurusan Yayasan Xaverius Palembang.
Sesuai dengan AD/ART yang baru, kepengurusan Yayasan Xaverius Palembang terdiri
dari :
- Dewan Pembina
- Ketua : Mgr. Al. Sudarso, SCJ
- Wakil Ketua : FX. Herru Atmadja, SCJ
- Anggota : Drs. Y Samudra Nugraha
- Anggota : Dr. Ir. Y. Pujiastuti, MS
- Anggota : Salio Agustjik
- Dewan Pengawas
- Ketua : Ant. Yuswita, SCJ
- Anggota : Nico van St, SCJ
- Anggota : Fredyanto T.S
- Anggota : Antonius W, SH
- Dewan Pengurus
- Ketua : Y.A.M Fridho Mulya, SCJ
- Sekretaris : Ir. Y. Karnadi Gozali
- Bendahara : YA. Suryo. WH, SCJ
- Anggota : dr. FX. Purwadi, Sp. R
- Anggota : Ir. Djunaidi
- Badan Pelaksana Harian
- Ketua : M. Priyo Kuswardono, Pr.
- Sekretaris : Drs. P. Sumaji
- KSK : Alexander Kiswadi, S. Pd
- Koordinatorat Sekolah-Sekolah Xaverius
Yayasan
Xaverius Pakembang memiliki koordinatorat sekolah
Xaverius yaitu :
- Koordinarat Sekolah Xaverius Jambi-Kuala Tungkal (9 sekolah)
- Koordinarat Sekolah Xaverius Curup (4 sekolah)
- Koordinarat Sekolah Xaverius Lubuk Linggau (4 sekolah)
- Koordinarat Sekolah Xaverius Tugumulyo, Musi Rawas (3 sekolah)
- Koordinarat Sekolah Xaverius Tanjung Sakti-Pagar Alam (6 sekolah)
- Koordinarat Sekolah Xaverius Baturaja-Batu Putih (5 sekolah)
- Koordinarat Sekolah Xaverius Muara Enim (3 sekolah)
- Sekolah Xaverius Wilayah Muara Bungo (1 sekolah)
- Sekolah Xaverius wilayah Belitang (1 sekolah)
- Koordinasi 23 sekolah dalam kota Palembang berada pada BPH Yayasan Xaverius Palembang
FRANSISKUS XAVERIUS
Jangan
dibingungkan dengan St. Francis Borgia, bangsawan
Spanyol lainnya yang menjadi Yesuit.
Fransiskus
Xaverius
Santo Fransiskus Xaverius
(Bahasa Latin:
Sanctus Franciscus Xaverius, Bahasa Portugis:
São Francisco Xavier, bahasa Tionghoa: 聖方濟各沙勿略) (lahir 7 April 1506 – meninggal
2 Desember
1552 pada umur 46 tahun),
adalah seorang pionir misionaris Kristen dan salah seorang pendiri Serikat Yesus
(Ordo Yesuit). Nama komunitas Xaverian Brothers diambil
nama dirinya. Gereja Katolik menganggap dia telah
mengkristenkan lebih banyak orang dibanding siapapun semenjak Santo Paulus.
AWAL HIDUP
Xaverius
terlahir bernama Francisco de Jaso y Azpilcueta di Kastil Xavier (dalam bahasa Spanyol
modern Javier, bahasa Basque Xabier, bahasa Katalan
Xavier) dekat Sangüesa dan Pamplona,
di Navarro, Spanyol.
Lahir sebagai putera bangsawan Basque
di Navarro. Pada tahun 1512, Kastilla menginvasi Navarro. Banyak
benteng yang dihancurkan, termasuk kastil keluarga, dan tanah-tanah disita.
Ayah Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1515. Pada usia 19 tahun,
Fransiskus Xaverius masuk Universitas Paris,
di mana dia lulus dengan licence ès arts pada tahun
1530. Dia kemudian
melanjutkan studi dalam bidang teologi
di kota itu, dan berkenalan dengan Ignatius Loyola.
Bersama dengan Ignatius, Pierre Favre dan empat orang lainnya, Xaverius mengikat janji
di Montmartre
dan membentuk Serikat Yesus pada 15 Agustus
1534, dengan mengucapkan
kaul kemiskinan dan kesucian.
KARYA MISI
Fransiskus
Xaverius mengabdikan sebagian besar dari masa hidupnya bagi karya misi di
negeri-negeri terpencil. Karena Raja Yohanes III (Bahasa Portugis:
Dom João III) dari Portugal
menghendaki agar para misionaris Yesuit berkarya di Hindia-Portugis, maka ia
pun diutus ke sana pada tahun 1540.
Ia bertolak dari Lisboa
pada tanggal 7 April 1541, bersama dua Yesuit
lainnya dan Martin de Sousa raja muda
yang baru , dengan menumpang kapal Santiago. Dari Bulan Agustus 1541 hingga bulan Maret 1542, ia singgah di Mozambik,
dan kemudian mencapai Goa, India,
ibukota koloni Portugis, pada tanggal 6 Mei. Jabatan resminya di
Goa adalah Nuncio Apostolik. Tiga tahun berikutnya
digunakannya untuk berkarya di Goa. Pada tanggal 20 September
1542, ia mengadakan
perjalanan misinya yang pertama di antara kaum Parava, para penyelam mutiara di sepanjang
pesisir Timur India Selatan, sebelah Utara dari tanjung Comorin. Ia
kemudian berusaha mengkristenkan Raja Travancore, di pesisir Barat, dan juga
mengunjungi Sailan.
Tidak puas akan hasil upayanya, di kembali ke Timur pada tahun 1545, dan menyusun rencana
perjalanan misi ke Makassar,
di Pulau Sulawesi.
Setelah tiba di Malaka pada bulan Oktober tahun itu dan selama tiga bulan
menunggu kapal tumpangan ke Makassar yang tak kunjung tiba, akhirnya ia
membatalkan tujuan semula dari pelayarannya. Ia bertolak dari Malaka pada
tanggal 1 Januari
1546 dan berlabuh di Amboina,
kemudian tingal di pulau itu hingga pertengahan bulan Juni. Setelah itu ia
mengunjungi pulau-pulau lainnya di Maluku,
termasuk Ternate
dan Moro.
Segera setelah hari raya Paskah tahun 1546, ia kembali ke pulau Ambon, dan
kemudian menuju Malaka. Misi di Ambon ini menjadi salah satu awal sejarah Gereja Katolik di Indonesia.
Selama rentang waktu tersebut, disebabkan kekecewaannya terhadap para petinggi
Goa, Santo Fransiskus menulis sepucuk surat kepada Raja Dom João III meminta
diberlakukannya Inkuisisi di Goa. Meskipun demikian, inkuisisi Goa baru mulai
dijalankan delapan tahun setelah kematiannya. Pada bulan Desember 1547, di Malaka,
Fransiskus Xaverius berjumpa dengan seorang bangsawan Jepang dari Kagoshima
bernama Anjiro. Anjiro telah mendengar kabar mengenai Fransiskus pada tahun
1545 dan berlayar dari Kagoshima ke Malaka dengan maksud bertemu dengannya.
Anjiro melarikan diri dari Jepang setelah dituduh melakukan pembunuhan. Ia lalu
mencurahkan isi hatinya kepada Fransiskus Xaverius, menceritakan riwayat
hidupnya serta adat dan budaya tanah airnya. Anjiro adalah seorang Samurai
sehingga dapat membantu Xaverius dengan keahliannya sebagai mediator dan
penerjemah dalam karya misi di Jepang
yang kini tampaknya semakin dapat terwujud. “Saya bertanya [kepada Anjiro]
apakah orang-orang Jepang bersedia menjadi Kristen jika saya pergi bersamanya
ke negeri itu, dan dia menjawab bahwa mereka tidak akan serta-merta menjadi
Kristen, namun terlebih dahulu akan mengajukan banyak pertanyaan lalu melihat
apa saja yang saya ketahui. Di atas segala-galanya, mereka akan mencermati
apakah hidup saya sesuai dengan ajaran saya… Semua pedagang Portugis yang
kembali dari Jepang meyakinkan saya bahwa dengan pergi ke sana saya dapat
mempersembahkan lebih banyak pelayanan bagi Allah Tuhan kita, lebih dari pada
di antara orang-orang India, karena orang Jepang adalah suatu ras yang amat
mementingkan akal budi.” Karena diyakinkan sedemikian rupa, Xaverius membaptis
Anjiro—dengan nama baptis Paulo de Santa Fe—dan mulai menyusun rencana suatu
misi bagi negeri yang belum lama ditemukan itu. Anjiro membantu Fransiskus
Xaverius menerjemahkan beberapa paragraf ajaran Kristiani ke dalam fonem Bahasa Jepang
yang kemudian dihafal oleh Xaverius. Ia kembali ke India pada bulan Januari 1548. Selama 15 bulan
berikutnya ia disibukkan dengan berbagai perjalanan dan urusan-urusan
administrasi di India. Karena tidak senang dengan apa yang dianggapnya sebagai
“sikap hidup yang tidak-Kristiani” dari orang-orang Portugis, yang menghambat
usaha penyebaran agama Kristen, ia berangkat dari Selatan ke Timur Benua Asia.
Ia meninggalkan Goa pada tanggal 15 April 1549,
singgah di Malaka dan mengunjungi Kanton
dengan ditemani Anjiro, dua pria Jepang lain, Pastur Cosme de Torrès
dan Bruder
Juan Fernandez. Ia juga membawa serta hadiah-hadiah bagi "Raja
Jepang" karena ia beniat memperkenalkan diri sebagai Nuncio Apostolik.
Xaverius mencapai Jepang pada tanggal 27 Juli 1549, namun baru pada
tanggal 15 Agustus
ia menginjakkan kakinya di Kagoshima, pelabuhan utama provinsi Satsuma
di Pulau Kyūshū.
Ia disambut dengan ramah-tamah dan dijamu oleh keluarga Anjiro hingga bulan
Oktober 1550. Dari Oktober hingga Desember 1550, ia berdiam di Yamaguchi. Tak lama sebelum Natal, ia menuju Kyoto namun gagal bertemu Kaisar. Ia kembali ke
Yamaguchi pada bulan Maret 1551 dan diizinkan berkhotbah oleh daimyo provinsi itu.
Akan tetapi karena kurang lancar berbahasa Jepang, ia hanya membacakan dengan
lantang terjemahan katekismus. Xaverius diterima dengan baik oleh para rahib Shingon karena ia menggunakan kata
“Dainichi” untuk Allah Kristen. Begitu Xaverius mendalami makna religius dari
kata itu, ia menggantinya dengan kata “Deusu” dari kata Latin dan Portugis
“Deus”. Para rahib pun sadar, Xaverius tengah menyebarkan suatu agama
tandingan. Seiring berjalannya waktu, kehadirannya di Jepang dapat dianggap
membuahkan hasil yakni dibentuknya jemaat-jemaat Kristiani di Hirado, Yamaguchi dan Bungo. Xaverius berkarya
lebih dari dua tahun di Jepang dan menyaksikan lahirnya Yesuit-Yesuit
penerusnya. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke India. Dalam pelayarannya
itu, suatu badai dahsyat memaksanya untuk singgah di sebuah pulau dekat Guangzhou,
Tiongkok
tempat ia berjumpa dengan Diégo Pereira, seorang pedagang kaya-raya, sabahat
lamanya dari Cochin,
yang memperlihatkan padanya sepucuk surat dari orang-orang Portugis yang
dipenjarakan di Guangzhou yang minta agar seorang duta besar
Portugal diutus kepada Kaisar Tiongkok guna membahas nasib mereka. Selanjutnya dalam
pelayarannya itu, ia singgah di Malaka pad tanggal 27 Desember
1551, lalu sampai di Goa
pada bulan Januari 1552.
Pada tanggal 17 April
ia berlayar bersama Diégo Pereira, meninggalkan Goa dengan menumpang kapal
Santa Cruz menuju Tiongkok. Ia memperkenalkan diri sebagai Nuncio Apostolik dan
Pereira sebagai duta besar dari Raja Portugal. Tak lama setelah berlayar, ia
baru menyadari bahwa surat penunjukannya sebagai Apostolic Nuncio telah
tertinggal. Sampai di Malaka, ia digugat oleh Capitan Alvaro de Ataide de Gama
yang kini memegang kendali penuh atas bandar itu. Sang capitan menolak untuk
mengakui gelar Nuncio-nya, meminta Pereira mengundurkan diri dari jabatannya
sebagai duta besar, mengganti para awak kapal, serta menuntut agar
hadiah-hadiah bagi Kaisar Tiongkok ditinggalkan di Malaka. Di awal September
1552, Santa Cruz mencapai pulau Shangchuan di Tiongkok, 14 km jauhnya dari
pesisir Selatan daratan Tiongkok, dekat Taishan, Guangdong,
200 km ke arah Barat Daya dari tempat yang kelak bernama Hong Kong.
Saat itu, ia hanya ditemani seorang murid Yesuit, Alvaro Ferreira, seorang pria
Tionghoa
bernama Antonio dan seorang pelayan Malabar bernama Khristoforus. Sekitar
pertengahan November, ia mengirim sepucuk surat yang dalam isinya ia berkata
bahwa seorang pria sudah setuju untuk membawanya ke daratan Tiongkok jika
dibayar dengan sejumlah besar uang. Dengan mengirim pulang Alvaro Ferreira, ia
tinggal seorang diri bersama Antonio.
WAFAT
Pada
tanggal 21 November,
ia pingsan seusai merayakan Misa.
Ia meninggal dunia di pulau itu pada tanggal 2 Desember
1552, pada umur 46 tahun,
tanpa pernah menginjakkan kakinya di daratan utama Tiongkok. Awalnya ia
dimakamkan di sebuah pantai di Shangchuan. Jenazahnya yang masih utuh
dipindahkan dari pulau itu pada bulan Februari 1553 dan disemayamkan
sementara waktu di gedung gereja Santo Paulus di Malaka
pada tanggal 22 Maret 1553. Sebuah makam terbuka
dalam gereja itu saat ini menandai tempat jenazah Xaverius pernah disemayamkan.
Pereira tiba dari Goa pada tanggal 15 April 1553, dan tak lama kemudian ia
memindahkan jenazah Xaverius ke rumahnya. Pada tanggal 11 Desember
1553, jenazah Xaverius kembali dibawa berlayar, diangkut dengan sebuah sampan berhias. Peti
jenazah ditempatkan dalam sebuah kabin dikelilingi tirai sutera di
tengah-tengah lilin-lilin bernyala dan wewangian yang dibakar, diiringi
lambaian perpisahan dari seisi bandar Malaka. Ketika melewati selat antara
Pulau Penang dan pantai, sampan itu sempat kandas pada gugus pasir namun
tiba-tiba bertiup angin kencang yang mendorongnya kembali ke perairan dalam. Setelah
singgah sebentar di Sailan, kemudian Cochin, akhirnya jenazah Xaverius tiba di
Goa pada tanggal 15 Maret 1554.
Keesokan harinya seluruh masyarakat mengiringi pengantaran jenazah orang kudus
itu ke katedral. Peti jenazah dibuka dan setelah 16 bulan isinya masih saja
segar. Selama tiga hari dan tiga malam berikutnya masyarakat diijinkan
memberikan penghormatan terakhir. Ribuan pria dan wanita menciumi kaki jenazah
Xaverius dan banyak mujizat dilaporkan terjadi. Jenazah yang tidak membusuk itu
kini disemayamkan di Basilika Bom Jésus
di Goa, dalam sebuah peti perak pada tanggal 2 Desember 1637. Peti perak itu
diturunkan untuk dilihat oleh umum hanya dalam penyelenggaraan pameran umum
yang berlangsung selama 6 minggu, tiap 10 tahun sekali, terakhir kali
diselenggarakan pada tahun 2004. Ada silang pendapat mengenai bagaimana jenazah
Xaverius tetap utuh sedemikian lama. Beberapa orang berpendapat bahwa
jenazahnya telah dimumikan,
sementara yang lain menganggapnya sebagai suatu Mujizat. Lengan depan (siku
hingga pergelangan) sebelah kanan, yang digunakan Xaverius untuk memberkati dan
membaptis orang, dipisahkan oleh Prefektur Jenderal Serikat Yesus
Claudio Acquaviva pada
tahun 1614 dan kini dipamerkan dalam sebuah relikuarium (Tempat penyimpanan Relikui) perak dalam gereja Il Gesù[1],
gereja utama Yesuit di Roma.
PENGAKUAN
Fransiskus
Xaverius diakui sebagai seorang santo
oleh Gereja Anglikan dan Katolik.
Ia dibeatifikasi oleh Sri Paus Paulus V pada tanggal 25 Oktober
1619, dan dikanonisasi
oleh Sri Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622, bersamaan dengan
kanonisasi Ignatius Loyola. Sophia University di Tokyo, Jepang didirikan
pada tahun 1913 untuk
menghormatinya . Pada tahun 1839,
Theodore James Ryken
mendirikan Xaverian Brothers, atau
Kongregasi Santo Fransiskus Xaverius (CFX). Kini, sebanyak 20 kolose atau SMU
merupakan Xaverian Brothers
Sponsored Schools (XBSS). Dia adalah santo pelindung Australia,
Kalimantan,
Tiongkok,
Hindia Timur,
Goa, Jepang, dan Selandia Baru.
Perayaan peringatannya ditetapkan tiap tanggal 3 Desember.
Banyak gereja di seluruh dunia dinamakan menurut namanya. Salah satunya adalah
Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Keuskupan Amboina,
Ambon. Basilika Santo
Fransiskus Xaverius di Dyersville, Iowa adalah
salah satu dari 52 basilika minor di Amerika Serikat dan satu-satunya yang
berada di luar kawasan metropolitan. Ada pula sebuah universitas terkenal di
Kanada yang dinamakan menurut namanya di Antigonish, Nova
Scotia yakni St. Fransiskus
Xaverius University. Javierada adalah ziarah tahunan dari
Pamplona ke Xavier yang dimulai sejak tahun 1940-an.
Xaverius adalah salah satu dari sedikit nama yang dimulai dengan huruf X.
Fransiskus Xaverius umum digunakan sebagai nama diri, di Indonesia biasanya
disingkat F.X. "Xavier" adalah nama laki-laki yang populer di Portugal,
Brasil, Spanyol
dan negara-negara berbahasa Spanyol, Perancis
dan Belgia.
Di Austria
dan Bavaria
nama ini ditulis Xaver (diucap Ksaber dan kerap mengikuti nama
"Francis" yakni Franz-Xaver)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar